Di Balik Shelter Kucing Banjarmasin: Tantangan Overkapasitas dan Kucing Sakit yang Terus Bertambah

Di Balik Shelter Kucing Banjarmasin: Tantangan Overkapasitas dan Kucing Sakit yang Terus Bertambah

Langkah masuk ke sebuah rumah kontrakan kecil di Jalan Sultan Adam, Banjarmasin, kita disambut oleh riuh meongan puluhan kucing. Suasana haru mewarnai penglihatan: kucing-kucing kurus berbaris menunggu makanan, ada pula yang bersembunyi ketakutan di sudut. Inilah Shelter Kucing Banjarmasin, sebuah komunitas relawan pecinta kucing di Kalimantan Selatan.

Shelter ini dirintis pada 2017 sebagai tempat penampungan sementara kucing jalanan: yang terluka, sakit, atau ditinggalkan pemiliknya. Saat ini, Shelter Kucing Banjarmasin menghadapi dua tantangan utama: overkapasitas kucing jalanan dan banyaknya kucing sakit yang perlu perawatan intensif.

Shelter Kucing Banjarmasin

Populasi kucing jalanan di kota besar seperti Banjarmasin bisa melonjak hingga ratusan ribu ekor, dan Shelter Banjarmasin kini kewalahan menampung puluhan bahkan ratusan kucing. Kucing-kucing sakit (termasuk gangguan pernapasan pascabanjir, cedera tabrak lari, serta infeksi) terus bertambah setiap bulannya.

Shelter Kucing Banjarmasin sebenarnya bukan bangunan resmi pemerintah, melainkan rumah singgah hasil inisiatif komunitas lokal. Menurut Beritabanjarmasin, komunitas ini dibentuk sejak 2017 dari kepedulian sekelompok pemuda terhadap kucing kampung terlantar. Mereka menyewa rumah kontrakan dua lantai untuk penampungan puluhan kucing.

Pada Oktober 2020 tercatat sekitar 35 ekor dewasa dan anak kucing tinggal di sini. Semua kucing itu diberi vaksinasi tahunan dan pemeriksaan rutin, mendapat pakan hingga 3 kilogram per hari, serta mandi rutin tiap dua minggu.

Sistem perawatan dilakukan secara gotong-royong; biaya makanan dan obat-obatan sebagian besar berasal dari donasi masyarakat. Para pengurus berharap ke depannya shelter ini dapat mandiri secara finansial agar tak terlalu tergantung donasi.

Shelter Kucing Banjarmasin berlokasi strategis di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Saat banjir besar melanda Kalsel awal 2021, shelter ini berubah menjadi pos evakuasi kucing. Radar Banjarmasin melaporkan bahwa sekitar satu pekan pascabanjir, 40 ekor kucing berhasil diselamatkan dan ditampung di shelter tersebut.

Cat Shelter Banjarmasin bahkan menyiapkan kandang darurat dan makanan khusus untuk kucing korban banjir dari pemiliknya. Film dokumentasi lokal menunjukkan para relawan mengenakan alat pelindung saat mengevakuasi kucing dari atap rumah warga.

Peristiwa banjir yang menambah populasi kucing jalanan menyoroti betapa gentingnya masalah ini. Shelter-Kucing lokal Banjarmasin juga bekerja sama dengan komunitas lain seperti Animal Care Banjarmasin; tim Animal Care melaporkan telah menerima sekitar 90 hewan (anjing dan kucing) pascabanjir untuk dirawat.

Tantangan Overkapasitas Kucing Jalanan

Fenomena kucing jalanan di Banjarmasin sulit dikendalikan. Menurut Detik News, tidak ada data pasti jumlah kucing liar di kota besar, namun diperkirakan bisa mencapai ratusan ribu ekor. Satu pasangan kucing bebas dapat beranak puluhan ekor dalam dua tahun tanpa penanganan sterilisasi. Tanpa program pengendalian populasi yang sistematis, bom waktu overpopulasi bisa membahayakan kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia.

Data resmi dari Pemkot Banjarmasin mencatat bahwa Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) mengadakan program sterilisasi kucing gratis tahun 2025 untuk menekan pertumbuhan populasi kucing jalanan.

Pada Mei 2025, DKP3 memfasilitasi sterilisasi 200 ekor kucing jantan secara cuma-cuma, melibatkan komunitas Sahabat Kucing Jalanan dan sponsor klinik hewan lokal. Program ini adalah respon langsung terhadap keluhan publik meningkatnya kucing liar dan upaya kolaborasi pemerintah dengan kelompok pecinta hewan lokal.

Akibat overkapasitas, Shelter Kucing Banjarmasin kini sering kewalahan. Ruang penampungan yang semula untuk puluhan kucing kini harus menampung dua kali lipat, bahkan lebih. Menurut Cat Shelter Banjarmasin (via media lokal), pascakrisis banjir 2021 jumlah kucing mereka melonjak tajam.

Kandang-kandang darurat dipenuhi sesak; satu kandang biasa yang muat tiga kucing dewasa kini diisi hingga tujuh kucing kecil atau lima dewasa pada situasi darurat. Para relawan selalu kewalahan menyediakan pakan dan anggota badan hangat untuk hewan-hewan itu. Overkapasitas juga menimbulkan masalah higenis: lebih sulit membersihkan lingkungan shelter, memicu stres dan konflik antar-kucing.

Untuk mengilustrasikan skala tantangan, Animal Care Banjarmasin (penampungan mitra) merangkum bahwa puluhan kucing masuk setiap hari pasca-banjir. Menurut Tirto, banyak kucing lemas dimasukkan kandang setelah berenang berhari-hari; dokter hewan menemukan beberapa kucing menghirup air ke paru-paru.

Kendati makanan sempat mencukupi berkat bantuan warga, lokasi penampungan terbatas. Shelter utama dan Animal Care terancam penuh, menunggu solusi jangka panjang.

Tantangan Kucing Sakit di Shelter

Overkapasitas kucing jalanan memicu masalah kesehatan serius. Di Shelter Kucing Banjarmasin, kasus kucing sakit acap ditemui. Banyak kucing terbawa ke shelter dalam kondisi dehidrasi, malnutrisi, atau terinfeksi parasit. Kucing-kucing korban tabrak-lari (seperti “Fortuna” yang mengalami gangguan saraf akibat kecelakaan) membutuhkan fisioterapi dan vaksinasi tambahan.

Apalagi, iklim tropis Kalimantan dan banjir berkala membuat penyakit pernapasan dan parasit mudah menjangkit. Menurut laporan media Tirto, tim penyelamat yang membawa puluhan kucing ke penampungan harus memisahkan mereka berdasarkan kondisi: yang sakit, cedera, atau kehilangan induk harus dirawat terpisah setelah diperiksa dokter hewan. Dokter hewan yang menangani shelter sering menemui infeksi saluran napas atas (air masuk ke paru-paru pascabanjir), serta diare dehidrasi dan abses luka lama.

Kondisi demikian membuat beban perawatan meningkat. Kucing yang sakit memerlukan obat-obatan dan perawatan intensif. Menurut relawan Cat Shelter Banjarmasin, makanan dan vitamin hanya menolong untuk pemeliharaan dasar; pengobatan obat-obatan menelan biaya besar.

Banyak kasus memaksa shelter menggandeng klinik hewan agar kucing mendapat perawatan profesional. Bahkan Shelter Kucing Banjarmasin berinisiatif bekerja sama dengan Klinik Hewan Tutu dan klinik lokal lain sebagai rujukan darurat. Biaya kesehatan inilah yang menjadi tantangan kedua selain kuota ruang. Jika tidak ditangani, penyakit menular bisa menyebar cepat dalam kandang yang padat.

Peran Relawan dan Komunitas Pecinta Kucing

Shelter Kucing Banjarmasin bergerak atas jiwa sosial para relawan pecinta hewan. Hingga 2025, komunitas ini hanya beranggotakan sekitar 13 relawan aktif, termasuk pendiri Dayat dan beberapa cat lovers lokal. Mereka semua rela memberi waktu dan tenaga untuk merawat hewan terbuang. Aktivitas rutin antara lain memberi makan, membersihkan kandang, dan mengantar kucing ke klinik saat sakit.

Contoh lapangan menunjukkan tim Cat Shelter Banjarmasin dan Animal Care Banjarmasin bahu-membahu saat banjir. Pada 21 Januari 2021, tim relawan Cat Shelter Banjarmasin (dipimpin Rizdie PS) menelusuri daerah tergenang untuk mengevakuasi kucing sebanyak 20 ekor dari satu desa saja.

Di sisi lain, Street Feeding Banjarmasin tetap melakukan penyelamatan jalanan dengan tangan kosong, berenang dan berjalan kaki mencari kucing ke sudut-sudut banjir. Kolaborasi silang inilah yang memungkinkan shelter tetap berjalan meski kapasitas terbatas.

Para dokter hewan lokal pun berperan krusial. Menurut Klinik Hewan Tutu Banjarmasin, konsultasi dokter hewan di kota ini relatif murah, mulai dari Rp35.000 saja. Klinik Tutu (Jl. Komplek Andai Raya Permai) bahkan memberi layanan 24 jam (kecuali Jumat) dan program vaksinasi serta sterilisasi.

Klinik ini menjadi mitra penting shelter saat kucing perlu tindakan medis. Relawan dan dokter hewan bersama-sama berbagi ilmu steril kucing untuk mencegah lahirnya generasi baru liar. Menurut cindarkucingcom, sebuah komunitas pecinta kucing di Banjarmasin, model kerja sama ini bisa menjadi contoh; mereka menyarankan agar shelter menjalin kemitraan lebih erat dengan klinik hewan dan Dinas Peternakan agar beban perawatan dapat terbagi.

  • Donasi Shelter Lokal: Kirim makanan kucing, pasir, vitamin, atau dana melalui akun resmi Shelter Kucing Banjarmasin. Setiap sumbangan langsung menghidupi puluhan kucing terlantar.
  • Program Adopsi Kucing Banjarmasin: Shelter membuka jalur adopsi gratis. Menurut relawan, calon pengadopsi dapat membawa pulang kucing dengan “syarat barter” penyumbangan makanan atau pasir agar ada kepedulian berkelanjutan.
  • Dukungan Pemerintah & Resmi: Dorong program sterilisasi massal oleh Pemkot Banjarmasin. Misalnya DKP3 Banjarmasin mengadakan steril kucing gratis (200 ekor jantan) pada 2025. Relawan merekomendasikan vaksinasi rabies rutin untuk semua kucing jalanan.

Kesimpulan

Shelter Kucing Banjarmasin di Banjarmasin merupakan wujud nyata kepedulian komunitas terhadap nasib kucing jalanan yang terlantar, sakit, dan terdampak bencana. Namun, di balik dedikasi para relawan, shelter ini menghadapi dua tantangan besar: lonjakan populasi kucing yang menyebabkan overkapasitas serta tingginya kebutuhan perawatan medis bagi kucing sakit.

Keterbatasan ruang, biaya, dan tenaga membuat keberlangsungan shelter sangat bergantung pada kolaborasi antara relawan, masyarakat, klinik hewan, dan dukungan pemerintah—terutama melalui program sterilisasi dan adopsi. Dengan sinergi bersama, upaya penyelamatan dan kesejahteraan kucing jalanan dapat berjalan lebih berkelanjutan di masa depan.

FAQ

Bagaimana cara mengadopsi kucing dari Shelter Kucing Banjarmasin?

Calon adopter dapat menghubungi relawan shelter dan mengikuti proses adopsi gratis dengan sistem tanggung jawab, biasanya berupa donasi pakan atau pasir sebagai bentuk komitmen terhadap kesejahteraan kucing.

Apa saja bentuk donasi yang paling dibutuhkan shelter saat ini?

Shelter sangat membutuhkan makanan kucing, pasir, vitamin, obat-obatan, serta donasi dana untuk biaya perawatan medis kucing yang sakit atau terluka.

Mengapa shelter sering mengalami overkapasitas?

Karena populasi kucing jalanan terus meningkat, terutama pascabanjir dan minimnya sterilisasi, sehingga jumlah kucing yang masuk jauh melebihi kapasitas ruang yang tersedia.

Apakah masyarakat bisa menjadi relawan di Shelter Kucing Banjarmasin?

Bisa. Shelter terbuka bagi masyarakat yang ingin membantu memberi makan, membersihkan kandang, mengevakuasi kucing, atau mendukung kegiatan penyelamatan lainnya.

Bagaimana cara membantu mengurangi populasi kucing jalanan?

Salah satu cara paling efektif adalah mendukung program sterilisasi massal yang diselenggarakan pemerintah atau komunitas pecinta hewan setempat.

Apakah kucing di shelter sudah mendapatkan perawatan kesehatan?

Sebagian besar kucing mendapat vaksinasi dan pemeriksaan rutin, namun kucing yang sakit berat sering memerlukan perawatan tambahan melalui kerja sama dengan klinik hewan lokal.