Kucing Batu Kalimantan Adalah? Ini Ciri-Ciri, Persebaran, dan Keunikannya

Kucing Batu Kalimantan adalah kucing liar endemik Kalimantan dengan bulu kemerahan, berbadan kecil (~50–60 cm, 3–4 kg). Spesies ini sangat jarang ditemui di alam karena populasinya sedikit dan perilaku soliter, sehingga masuk status terancam punah.

Kucing Batu Kalimantan (Catopuma badia), juga disebut Kucing Merah atau Borneo Bay Cat, adalah kucing liar endemik Pulau Kalimantan (Borneo). Tubuhnya kecil (panjang kepala-badan ~50–60 cm, berat ~3–4 kg) dengan bulu coklat kemerahan. Satwa ini hidup di hutan hujan tropis dan hingga kini sangat jarang ditemukan di alam.

Key Takeways

  • Endemik Kalimantan (Borneo)
  • Bulu coklat kemerahan, tubuh kecil (50–60 cm, ~3–4 kg)
  • Hidup di hutan hujan tropis (rawa, gambut, bukit rendah)
  • Bersifat soliter dan sulit ditemukan (aktivitas terutama di siang hari)
  • Populasi amat sedikit, berstatus terancam punah (IUCN EN)

Kucing Batu Kalimantan adalah kucing liar endemik Pulau Kalimantan. Tubuhnya kecil (±50–60 cm, ~3–4 kg) dengan bulu coklat kemerahan. Satwa ini tinggal di hutan tropis (rawa, gambut, bukit rendah) dan sangat langka, masuk status terancam punah.

Definisi Kucing Batu Kalimantan

Kucing Batu Kalimantan, juga dikenal sebagai Kucing Merah Kalimantan atau Borneo Bay Cat, adalah kucing liar endemik Pulau Kalimantan. Spesies ini memiliki nama ilmiah Catopuma badia dan merupakan salah satu hewan khas Kalimantan yang sangat sulit dipelajari. Ukuran tubuh dewasa sekitar 50–60 cm (panjang kepala ke badan) dengan panjang ekor 30–40 cm, dan berat hanya 3–4 kg.

Warna bulunya coklat kemerahan gelap, lebih pucat di bagian bawah tubuh, dengan corak hampir polos (hanya ekor bergaris putih ke ujung hitam). Di alam, kucing ini sangat langka; menurut IUCN, populasinya diperkirakan di bawah 2.500 ekor individu dewasa sehingga diklasifikasikan sebagai terancam punah.

Paragraf berikutnya menyoroti keunikannya: Kucing Batu Kalimantan memiliki status yang unik karena hanya ada di Borneo, belum pernah dijumpai di tempat lain. Jumlahnya yang sangat sedikit dan kehidupan yang tersendiri membuatnya misterius. 

Menurut Dr. Susan Cheyne (Borneo Nature Foundation), kucing merah Kalimantan adalah salah satu satwa kucing liar yang paling sulit dipelajari karena sifatnya yang sangat tertutup dan penyamaran yang tinggi di antara pepohonan. Penemuan pertama kucing ini di alam banyak dilakukan dengan jebakan kamera (camera trap), misalnya rekaman foto pertama di Sarawak pada 1998 dan dokumentasi melalui kamera jebak pada 2002.

Ciri-ciri Utama Kucing Batu Kalimantan

Kucing Batu Kalimantan memiliki bulu berwarna coklat kemerahan (merah kastanye) yang hampir polos. Perut bagian bawah berwarna lebih pucat (abu-abu), sementara kaki dan ekor lebih merah kemerahan. Ekor kucing ini relatif panjang (hingga hampir separuh tubuh) dengan ujung meruncing; pada permukaan bawah ekor terdapat garis putih melebar hingga ke ujung berwarna hitam kecil.

Kepala kucing ini berbentuk bundar pendek berwarna coklat gelap keabu-abuan, terdapat dua garis gelap membentang dari ujung mata ke pipi, dan bagian belakang kepala memiliki tanda gelap berbentuk huruf ‘M’. Telinganya bundar kecil dan berwarna coklat kehitaman di bagian luar, sedangkan bagian dalam lebih terang; tidak terdapat titik putih khas di belakang telinga (berbeda dengan kucing emas Asia). Bagian dagu bagian bawah berwarna putih dan terdapat dua garis kecoklatan samar di pipi. Mata kucing batu Kalimantan umumnya berwarna keemasan atau kuning cerah yang tajam.

Menurut Cat Specialist Group IUCN, berat kucing batu Kalimantan dewasa sekitar 3–4 kg dengan panjang badan 53–67 cm (ekor 32–40 cm). Proporsi tubuhnya ramping seperti kucing jaguarundi (jenis kucing Amerika). Warna bulu yang dominan merah kecoklatan ini membuatnya menonjol di antara kucing liar lain yang sering berkutub atau bercorak lebih terang.

Perilaku dan Kebiasaan

Kucing Batu Kalimantan umumnya bersifat soliter (penyendiri) dan aktif berburu sendiri di habitatnya. Awalnya dianggap aktif malam hari, namun hasil kamera jebak terbaru menunjukkan bahwa spesies ini cenderung aktif pada siang hari (diurnal) dengan beberapa rekaman aktivitas malam yang jarang. Semua foto liar yang ada menunjukkan hanya satu ekor kucing setiap bidikan, menegaskan sifat soliter mereka. Di alam, kucing batu tinggal di hutan lebat dan terhindar dari perjumpaan dengan manusia; perilakunya sangat pemalu.

Seperti kucing liar umumnya, kucing ini termasuk karnivora. Meskipun belum banyak diketahui secara pasti mangsa favoritnya, diduga mereka berburu hewan-hewan kecil di hutan seperti tikus hutan, burung kecil, reptil, atau mamalia kecil lainnya. Giginya yang tajam dan struktur tubuhnya memang dirancang untuk memangsa hewan berdaging. Kucing batu Kalimantan jarang terlihat memanjat terlalu tinggi, walaupun juga mampu berada di pepohonan; sebagian besar waktu dihabiskannya di lantai hutan ataupun zona vegetasi rendah.

Baca Juga: Kucing Hutan Sumatera: Ciri Fisik, Habitat, dan Fakta Unik yang Jarang Dibahas

Persebaran Kucing Batu Kalimantan

Kucing Batu Kalimantan hanya ditemukan di Pulau Kalimantan. Di Indonesia, satwa ini tercatat muncul di berbagai wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Barat (misalnya kawasan Sungai Kapuas Hulu), Kalimantan TengahKalimantan Timur, serta Kalimantan Utara. Selain itu, kucing batu juga terdapat di bagian utara Pulau Kalimantan yang merupakan wilayah Malaysia (negara bagian Sabah dan Sarawak). Hingga saat ini belum ada bukti sahih keberadaannya di Kalimantan Selatan maupun di negara Brunei Darussalam.

Peta di samping memperlihatkan persebaran kucing ini (tanda titik biru) berdasarkan data IUCN dan Borneo Nature Foundation. Catatan-catatan lapangan menunjukkan kucing batu terdapat di dataran rendah hutan hujan tropis hingga hutan perbukitan rendah. Misalnya, pada akhir 1990-an ada laporan dapat dipercaya dari Sungai Kapuas Hulu (Kalbar) dan Taman Nasional Gunung Palung.

Beberapa pengamatan tak terkonfirmasi terjadi di ketinggian hingga 1.800 meter di Gunung Kinabalu (Sabah). Namun, sebagian besar catatan historis maupun modern datangnya dari habitat dekat air (seperti pinggir sungai atau hutan bakau), meski alasan pasti belum diketahui.

Habitat dan Cara Hidup

Kucing Batu Kalimantan sangat bergantung pada habitat hutan tropis alami. Habitat utamanya mencakup hutan rawa dan gambut dataran rendah, hutan rawa, serta hutan dipterokarp dataran rendah sampai perbukitan (termasuk ketinggian hingga sekitar 900 meter). Menurut studi IUCN Cat Specialist Group, bay cat “tampak sangat tergantung pada hutan alami dan semi-alami”.

Observasi terbaru mengumpulkan 71 catatan bay cat dari berbagai tipe hutan: hutan pantai, hutan bukit rendah, hutan sekunder yang rusak akibat penebangan, hingga hutan campuran rawa gambut dan heath. Beberapa rekaman kamera jebak bahkan di hutan gambut dan hutan yang dipulihkan (rehabilitasi).

Walaupun mampu hidup di beragam hutan, kucing batu sering kali dikaitkan dengan area berhutan yang masih baik dan dekat sumber air. Hampir semua catatan (historis maupun baru) ditemukan di dekat badan air, sungai, atau hutan mangrove, yang menunjukkan ia memang sering berada di zona basah.

Entah karena mangsa favoritnya ada di situ atau karena kebiasaan kolektor memeriksa area tersebut. Ketinggian lokasi temuan pun bervariasi: catatan yang valid berkisar dari 55 meter hingga 1.460 meter di atas permukaan laut. Sebuah rekaman di Sabah menunjukkan kemungkinan keberadaan kucing batu pada ketinggian hingga 1.800 meter (meski itu belum terverifikasi).

Dalam habitatnya, kucing batu berperilaku terestrial (banyak di tanah) walau kadang terlihat di pepohonan. Hewan ini menghabiskan sebagian besar waktu menyendiri, hanya berkumpul saat musim berkembang biak. Aktivitasnya terutama terjadi pada siang hari, berbeda dengan kebanyakan kucing hutan lainnya yang nokturnal. Karena sifatnya sangat penyendiri dan tinggal di hutan lebat, kucing batu sangat jarang bertemu manusia atau predator besar lainnya.

Baca Juga: Kucing Belang Tiga Spesies Perwakilan: 3 Spesies Kucing dengan Pola Belang Mewah

Makanan dan Rantai Makanan

Sebagai karnivora sejati, kucing batu Kalimantan memangsa hewan kecil di hutan. Meskipun belum ada penelitian detail tentang diet spesifiknya, diduga mangsanya antara lain tikus hutan, hewan pengerat lain, burung kecil, reptil, dan mamalia kecil lainnya.

Struktur tubuh dan gigi karnivor menunjukkan kucing ini berburu mangsa berbadan kecil. Dalam rantai makanan hutan tropis, kucing batu duduk sebagai predator tingkat menengah ke atas. Ia tidak berburu hewan besar, melainkan karnivora oportunistik yang memanfaatkan keberadaan mangsa kecil.

Perbedaan dengan Kucing Liar Lain

Kucing Batu Kalimantan memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari kucing liar lain di Asia Tenggara. Berbeda dengan kucing emas Asia (Catopuma temminckii), yang berukuran lebih besar dan bulu oranye keemasan bercorak belang kecil, kucing batu lebih kecil dan berwarna merah kecoklatan gelap.

Telinga kucing emas sering memiliki tanda putih di belakangnya, sedangkan kucing batu tidak memiliki titik putih di telinga. Ujung ekornya panjang dengan garis putih khas dan bercak hitam di ujung, fitur yang tidak dimiliki oleh kucing emas atau kebanyakan kucing hutan lain.

Kucing Batu Kalimantan juga berbeda dari kucing bakau (Prionailurus viverrinus) dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis). Kucing bakau lebih kekar tubuhnya, berhidung panjang, dan memiliki pola bercak abu-abu kehitaman; ia sering ditemukan di hutan bakau atau rawa pasang surut, sedangkan kucing batu tidak.

Kucing hutan (common leopard cat) berukuran lebih kecil, berbulu bermotif bercak (polos bergaris), sedangkan kucing batu berwarna seragam dengan tubuh ramping. Kucing marmer Borneo (Pardofelis marmorata) memiliki pola belang pada bulu, berbeda jelas dengan bulu polos kucing batu Kalimantan. Dari segi taksonomi, kucing batu lebih berkerabat dekat dengan kucing emas dan kucing marmer daripada dengan kucing bakau atau kucing hutan.

Perbedaan lainnya terlihat dari ekor: ekor kucing batu cukup panjang (hampir 70–75% panjang badannya), lebih panjang jika dibandingkan rasio ekor-kepala tubuh kucing liar lain. Bentuk kepalanya yang bulat pendek dengan garis gelap di wajah juga khas dan menjadi pembeda dengan kucing liar lain yang muka lebih simetris. Secara keseluruhan, kombinasi warna seragam merah kecoklatan, ekor panjang dengan gurat putih, serta ukuran kecil membuat kucing batu Kalimantan mudah dibedakan bila dibandingkan kucing liar lain di habitatnya.

Baca Juga: Kucing Belang Harimau: Harga, Ciri Fisik, dan Cara Memilih yang Sehat

Mengapa Kucing Batu Kalimantan Jarang Ditemui?

Kucing Batu Kalimantan tergolong hewan yang sangat sulit ditemui. Salah satu alasannya adalah populasinya yang sangat kecil. Menurut IUCN Cat Specialist Group, jumlah kucing batu dewasa diperkirakan hanya sekitar 2.200 ekor di alam. Di antara lima spesies kucing liar yang ada di Borneo, kucing batu adalah yang paling langka dan elusif.

Dalam suatu survei, hanya bay cat yang jarang dikenal oleh masyarakat lokal: banyak warga dapat mengenali empat dari lima kucing liar Borneo lainnya, namun tidak ada yang mengenali kucing batu. Ini menunjukkan betapa jarangnya perjumpaan manusia dengan spesies ini.

Selain jumlah sedikit, habitat utama kucing batu adalah hutan hujan tropis yang masih alami dan lebat. Lokasinya seringkali di daerah terpencil seperti hutan rawa atau ketinggian menengah, jauh dari pemukiman penduduk. Perilaku soliter dan tertutup juga membuatnya makin sulit terekam.

“Kucing merah Kalimantan memang satwa yang sangat tertutup, tersembunyi, dan sangat tersamarkan,” kata Dr. Susan Cheyne. Meski demikian, teknologi seperti kamera jebak telah membantu para ilmuwan memperoleh rekam jejaknya. Seiring waktu, jumlah penemuan kucing ini meningkat, tetapi tingkat penangkapannya tetap sangat rendah dibanding kucing liar lain yang berada di habitat sama.

Status Konservasi dan Ancaman

Menurut IUCN Red List, Kucing Batu Kalimantan diklasifikasikan sebagai Endangered (Genting). Penurunan populasinya di alam diperkirakan signifikan karena hilangnya habitat dan tekanan manusia. Pada 2002, IUCN melaporkan penurunan populasi lebih dari 20% akibat deforestasi hingga 2020. Saat ini diperkirakan kurang dari 2.500 individu dewasa masih hidup.

Di Indonesia, Kucing Batu Kalimantan termasuk dalam satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Itu berarti dilarang memburu, memelihara, atau memperdagangkan hewan ini di wilayah Indonesia. Ancaman utama bagi kelangsungan hidupnya adalah hilangnya hutan hujan tropis Kalimantan.

Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan kegiatan penebangan komersial merenggut habitat alaminya secara masif. Jika tingkat deforestasi tetap tinggi, hanya sebagian kecil hutan Kalimantan yang tersisa di masa depan.

Ancaman lain termasuk pembangunan infrastruktur (pembangkit listrik tenaga air), perburuan, dan perdagangan ilegal. Ada bukti sebagian kecil individu kucing batu terjebak dalam jaringan perdagangan satwa langka. Perburuan untuk kulit atau perdagangan peliharaan (walau jarang tercatat) juga bisa menjadi masalah potensial.

Baca Juga: Penyebab Kelangkaan Kucing Merah Kalimantan: 4 Alasan Utama yang Mengancam Kelangsungan Hidupnya

Fakta Unik

  • Pertama Diketahui Zaman Kolonial: Kucing Batu Kalimantan pertama kali dideskripsikan oleh ahli zoologi John Edward Gray pada 1874 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan Alfred Russel Wallace dari Sarawak (1856). Awalnya dianggap sebagai anak kucing emas Asia yang “marah”, hingga studi genetik 1992 membuktikan bahwa keduanya adalah spesies tersendiri yang berpisah sekitar 4,9–5,3 juta tahun lalu.
  • Foto LiDAR Terakhir: Foto pertama kucing batu di alam liar berhasil diambil tahun 1998, dan rekaman kamera jebak pertamanya muncul pada 2002. Ini membuatnya menjadi salah satu kucing liar terakhir yang terkonfirmasi keberadaannya di dunia.
  • Warna Langka: Selain warna merah kastanye umum, pernah ditemukan varian jarang berbulu hitam pekat dengan ekor merah oleh kamera jebak di Sarawak (2015). Fenomena ini menunjukkan bahwa ada keragaman genetik dalam populasi terbatasnya.
  • Ukuran Tak Banyak Terukur: Hingga tahun 2004, hanya ada 12 spesimen kucing batu yang pernah diukur secara resmi. Akibat data terbatas itu, banyak detail biologisnya masih misterius.
  • Mirip Jaguarundi: Tubuhnya yang ramping dan ekor panjang membuatnya berpenampilan mirip jaguarundi (kucing hutan Amerika). Panjang ekornya sekitar 73% dari panjang kepala-badan, proporsi yang lebih panjang dibanding kucing liar lain di Borneo.
  • Paling Misterius: Para peneliti menyebut kucing ini sebagai “salah satu kucing paling tidak dikenal di dunia”. Dengan habitat terpencil dan kebiasaan tertutup, ilmuwan baru sedikit memahami perilaku dan ekologi aslinya.

Mitos vs Fakta

MitosFakta
“Kucing Batu Kalimantan hanyalah kucing kampung atau subspesies kucing emas.”Kucing Batu Kalimantan adalah spesies liar tersendiri yang endemik Kalimantan. Ia berbeda genetis dari kucing domestik dan kucing emas Asia.
“Bisa dijumpai di pulau lain, seperti Sumatra atau Jawa.”Spesies ini hanya ada di Pulau Borneo (Kalimantan). Laporan sahih hanya dari Kalimantan (Indonesia dan Malaysia bagian utara).
“Dapat dipelihara seperti kucing kampung jika dijinakkan.”Kucing Batu adalah satwa liar dilindungi (PP No.7/1999). Ia tidak jinak bagi manusia dan jauh lebih membutuhkan habitat alami. Menurut cindarkucingcom, melindungi hutan hujan tempat ia hidup adalah cara terbaik menjaga kelangsungan hidup spesies ini.
“Karena namanya, ia suka bersarang di batu besar atau tebing karang.”Sebenarnya kucing ini tidak memiliki hubungan khusus dengan batu. Ia justru tinggal di hutan hujan tropis (rawa, gambut, bukit rendah), bukan area bebatuan.
“Kucing Batu Kalimantan adalah mitos atau legenda belaka.”Keberadaannya terbukti melalui spesimen dan foto sahih. Satwa ini nyata dan pernah direkam di alam liar oleh ilmuwan.

Baca Juga: Cara Menjinakkan Kucing Hutan Umur 3 Bulan dengan Mudah

Referensi:

  • IUCN SSC Cat Specialist Group. Catopuma badia. The IUCN Red List of Threatened Species 2016 (versi 2024-2).
  • Azzahra, T.A., Buntar, A.D., Arya, G.P., Rachmaniar, V.A., & Suryanda, A. (2024). Status Konservasi dan Pelestarian Habitat Kucing Merah (Catopuma badia) di Hutan Kalimantan. Berkala Ilmiah Biologi, 15(1), 57–63.
  • Mongabay Indonesia (2017). “Kucing Merah Itu Terekam Kamera di Hutan Kalimantan Tengah”, 26 Mei 2017.
  • Mohd-Azlan, J. & Sanderson, J. (2007). “Geographic distribution and conservation status of the bay cat Catopuma badia” in Oryx 41(3). (Referensi data peta persebaran).
  • Gray, J. E. (1874). Descriptions of two new species of Felidae from Borneo. Proceedings of the Zoological Society of London (Sumber historis).
  • Castello, J.D. (2020). The wild cats: Classification and biology. (Referensi tentang perilaku karnivora).
  • Cat Specialist Group (IUCN) Living Species – Borneo Bay Cat (Catopuma badia) (2024).