Perbedaan Telinga Kucing Korengan karena Kutu, Jamur, dan Infeksi Bakteri
Telinga Kucing Korengan

Perbedaan Telinga Kucing Korengan karena Kutu, Jamur, dan Infeksi Bakteri – Menurut cindarkucingcom, kasus telinga kucing yang berkerak sering membuat pemiliknya cemas karena sulit membedakan penyebabnya.

Telinga kotor, berwarna gelap, atau berbau tak sedap bisa disebabkan oleh infestasi tungau telinga (ear mites), infeksi jamur Malassezia, maupun infeksi bakteri seperti Staphylococcus.

Apa Penyebab Telinga Kucing Korengan?

Hellosehat mencatat bahwa kutu telinga menyebabkan kotoran berwarna cokelat gelap mirip lilin, sedangkan PetMD menyebutkan infeksi bakteri sering menimbulkan sisik dan nanah.

Korengan pada telinga kucing umumnya disebabkan oleh tungau telinga, infeksi jamur, atau infeksi bakteri. Meski sama-sama menimbulkan kerak, kotoran, dan rasa tidak nyaman, ketiganya punya ciri berbeda, seperti warna kotoran, bau, tingkat gatal, serta ada tidaknya cairan atau nanah. Karena itu, penyebabnya perlu dikenali sejak awal agar penanganannya tepat.

Pada beberapa kasus, koreng di telinga bisa terkait dengan pertumbuhan jamur berlebih pada kulit dan lipatan telinga. Kondisi ini lebih mudah terjadi saat lingkungan lembap, kebersihan telinga kurang terjaga, atau daya tahan tubuh kucing menurun. Karena itu, jika telinga kucing berkerak disertai bau tengik, kemerahan, dan kotoran berminyak, infeksi jamur juga perlu dipertimbangkan selain kutu atau bakteri.

Dengan memahami ciri khusus setiap penyebab, pemilik dapat menolong kucing kesayangan mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat.


Baca Juga: Penyakit FIP Kucing: Memahami dan Menghadapi Penyakit Mematikan


Penyebab Kucing Jamuran

Kucing jamuran umumnya disebabkan oleh infeksi jamur dermatofit, terutama Microsporum canis, yang menyerang kulit, bulu, dan kadang kuku. Jamur ini lebih mudah berkembang pada kulit yang lembap, kotor, atau saat daya tahan tubuh kucing menurun. Karena itu, jamuran bisa muncul di tubuh, wajah, telinga, kaki, hingga ekor.

Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi atau dari lingkungan yang terkontaminasi, seperti alas tidur, kandang, sisir, handuk, dan alat grooming yang tidak steril. Spora jamur juga dapat bertahan lama di lingkungan, sehingga kucing tetap bisa tertular meski terlihat sehat, terutama jika sering berada di area lembap dan jarang dibersihkan.

Kucing yang lebih rentan terkena jamuran antara lain anak kucing, kucing stres, kucing dengan gizi kurang baik, imunitas lemah, dan kucing berbulu panjang karena kulitnya lebih mudah lembap dan sulit dipantau.

Gejala awal biasanya berupa bercak botak bulat, kulit bersisik, kemerahan, gatal, serta bulu yang mudah patah, kusam, atau rontok. Jika muncul di sekitar telinga, kondisi ini sering disangka korengan, padahal bisa jadi infeksi jamur yang perlu segera ditangani.

Untuk mencegahnya, jaga kebersihan kandang, rutin cuci alas tidur, hindari berbagi alat grooming tanpa dibersihkan, dan pastikan tubuh kucing tetap kering setelah mandi. Jika ada kucing yang terinfeksi, pisahkan sementara agar tidak menular ke hewan lain.

Apa ciri jamur pada telinga kucing?

Jamur pada telinga kucing biasanya menyebabkan telinga kemerahan, gatal, berminyak, berbau tengik, dan menghasilkan kotoran lengket kecokelatan. Kondisi ini perlu dibedakan dari tungau telinga yang lebih sering menimbulkan kotoran hitam seperti bubuk kopi.

Apakah Jamur pada Kucing Menular ke Manusia?

Jamur pada kucing, terutama akibat dermatofit seperti Microsporum canis, termasuk yang dapat menular ke manusia. Penularan biasanya terjadi lewat kontak langsung dengan kulit atau bulu kucing yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi spora jamur, seperti alas tidur, handuk, sisir, kandang, dan sofa tempat kucing sering berbaring.

Orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, anak-anak, dan lansia umumnya lebih rentan tertular. Pada manusia, infeksi ini sering menimbulkan bercak kemerahan berbentuk melingkar, terasa gatal, dan kadang bersisik. Karena itu, jika kucing di rumah sedang jamuran, pemilik sebaiknya mencuci tangan setelah memegang kucing, membersihkan lingkungan secara rutin, dan menghindari berbagi alas tidur atau kain dengan hewan yang sedang sakit.

Meski demikian, tidak semua gangguan kulit pada kucing otomatis menular ke manusia. Risiko penularan paling sering dikaitkan dengan jamur kulit jenis dermatofit, bukan sekadar telinga kotor atau koreng biasa. Karena itu, pemeriksaan dokter hewan tetap penting untuk memastikan penyebabnya.


Baca Juga: Solusi Ampuh Cara Mengobati Sakit Mata pada Kucing dengan Air Garam Secara Efektif


Bagian Tubuh Kucing yang Paling Sering Terserang Jamur

Jamur pada kucing paling sering menyerang area tubuh yang permukaan kulitnya mudah lembap atau sering bergesekan. Bagian yang cukup sering terkena antara lain wajah, telinga, sekitar mata, kaki, ekor, dan punggung. Pada beberapa kucing, bercak jamur juga dapat muncul di dagu, leher, atau perut, terutama jika kebersihan tubuh kurang terjaga atau bulu dalam keadaan lembap cukup lama.

Area telinga perlu mendapat perhatian khusus karena jamur bisa muncul di kulit sekitar daun telinga, lipatan telinga, atau area pangkal telinga. Inilah sebabnya sebagian pemilik kucing sering mengira jamur hanya berupa koreng biasa akibat garukan, padahal sebenarnya ada infeksi kulit yang sedang berkembang.

Jika bercak botak, sisik, atau kemerahan muncul lebih dari satu lokasi sekaligus, kemungkinan infeksi jamur kulit perlu lebih dipertimbangkan. Sebaliknya, bila keluhan hanya dominan di saluran telinga disertai kotoran gelap atau bau menyengat, penyebab lain seperti tungau atau infeksi bakteri juga harus ikut dicurigai.

Gejala Awal Kucing Jamuran

Telinga Kucing Korengan

Gejala awal kucing jamuran sering kali tampak ringan sehingga mudah diabaikan. Tanda yang paling umum adalah munculnya bercak botak kecil berbentuk bulat, kulit tampak bersisik, kemerahan, dan bulu di area tersebut terlihat kusam atau mudah patah. Pada sebagian kucing, rasa gatal tidak terlalu berat di awal, sehingga pemilik baru menyadarinya saat area botak mulai melebar.

Selain itu, kulit yang terkena jamur kadang tampak lebih kering, berkerak halus, atau seperti ketombe yang menempel pada pangkal bulu. Jika infeksi terjadi di sekitar telinga, wajah, atau kaki, kucing bisa terlihat lebih sering menggaruk area tersebut meski belum sampai muncul luka yang dalam.

Mengenali gejala awal sangat penting karena jamuran yang ditangani lebih cepat biasanya lebih mudah dikontrol. Sebaliknya, jika dibiarkan, infeksi dapat meluas ke area tubuh lain dan meningkatkan risiko penularan ke hewan lain di rumah.


Baca Juga: Perbedaan Kucing Hidung Hitam Alami vs Kucing dengan Masalah Kesehatan


Perbedaan Jamur Kulit Umum dan Jamur Telinga pada Kucing

Secara umum, jamur pada kucing dapat dibedakan menjadi jamur kulit dan jamur pada area telinga. Jamur kulit umumnya disebabkan oleh dermatofit seperti Microsporum canis, yang lebih sering menimbulkan bercak botak, sisik, kerontokan bulu, dan lesi melingkar pada berbagai bagian tubuh.

Sementara itu, jamur pada telinga kucing lebih sering terkait dengan pertumbuhan berlebih Malassezia, yaitu yeast yang sebenarnya dapat hidup normal pada kulit dan telinga. Ketika jumlahnya berlebihan, jamur ini dapat memicu kulit sekitar telinga menjadi kemerahan, terasa gatal, tampak berminyak, berbau tengik, dan menghasilkan kotoran yang lengket atau kecokelatan.

Dengan kata lain, jamur kulit umum lebih sering terlihat sebagai masalah pada kulit dan bulu, sedangkan jamur telinga lebih dominan menimbulkan keluhan pada lipatan telinga, area sekitar daun telinga, dan kotoran telinga yang abnormal. Membedakan keduanya penting karena lokasi infeksi, gejala utama, dan pendekatan perawatannya bisa berbeda.

Tungau Telinga (Otodectes cynotis) pada Kucing

Tungau telinga (Otodectes cynotis) adalah parasit mikroskopis yang hidup di saluran telinga luar kucing. Parasit ini sangat menular terutama melalui kontak langsung antar hewan.

Menurut The People’s Dispensary for Sick Animals (PDSA), penyebab utama infestasi tungau telinga adalah kontak dengan hewan lain yang terinfeksi.

Artinya, jika induk kucing memiliki tungau, anaknya bisa tertular saat menyusu atau berbagi tempat tidur.

  • Penyebab: Tetesan mikroskopis tungau Otodectes berpindah dari kucing ke kucing lewat kontak langsung. Lingkungan lembap atau populasi kucing padat juga mempercepat penyebaran.
  • Gejala khas:
    • Kotoran telinga cokelat kehitaman seperti lilin.
    • Kulit telinga dan lubang telinga kemerahan, bengkak, sangat gatal (kucing sering menggaruk atau menggelengkan kepala).
    • Ruam bersisik atau berkerak muncul di sekitar telinga.
    • Bau tak sedap dari telinga, akibat kotoran campur nanah.
  • Diagnosa: Dokter hewan memeriksa telinga menggunakan otoskop atau mikroskop. Kotoran telinga yang tampak seperti bubuk kopi atau kotoran gelap menegaskan gejala tungau.

Penanganan Tungau: Dokter hewan akan membersihkan telinga dan memberikan obat topikal pembunuh kutu. Obat tetes telinga berbahan aktif insektisida (misalnya ivermektin, milbemycin) sering diresepkan untuk membasmi tungau.

Ada pula tindakan sistemik seperti pemberian insektisida pipet (Revolution®, Advantage Multi®) yang dioleskan di kulit leher sekali sebulan terbukti ampuh mengendalikan tungau telinga.

Penggunaan obat ini sering dilakukan bersamaan dengan pembersihan rutin. Jika terjadi peradangan berat atau infeksi bakteri sekunder, dokter mungkin menambahkan antibiotik atau steroid topikal untuk mengurangi nyeri dan bengkak.


Baca Juga: Jenis Kutu Kucing dan Cara Mengatasinya


Infeksi Jamur Malassezia pada Telinga Kucing

Malassezia adalah genus jamur (yeast) yang secara normal tinggal di kulit dan telinga kucing sebagai flora komensal. Namun, bila jumlahnya berlebih, Malassezia dapat berubah patogen dan menyebabkan dermatitis serta otitis eksterna (radang telinga luar).

Menurut jurnal Veteriner Universitas Udayana, infeksi Malassezia menyebabkan eksudat berminyak berwarna coklat kemerahan pada area yang terinfeksi, termasuk sesekali di sekitar telinga.

Tingkat prevalensi Malassezia pada kucing dilaporkan sekitar 2,7% (Mauldin et al., 2002), terutama terjadi saat kelembapan tinggi atau saat kekebalan rendah.

  • Penyebab: Faktor seperti kebersihan kurang, kelembapan tinggi, alergi atau gangguan imun dapat memicu pertumbuhan berlebih Malassezia. Kucing berbulu panjang atau ras tertentu (Persia, Devon Rex, Anggora, Sphinx) disebut lebih rentan.
  • Gejala khas:
    • Kulit telinga dan area sekitarnya menjadi kemerahan (eritema), mengelupas, dan mengeras (likenifikasi).
    • Kehilangan kilau bulu dan kerontokan di sekitar telinga atau dagu.
    • Kotoran telinga tampak berlemak dengan lapisan lengket berwarna coklat kemerahan. Kadang tercium bau tengik jika infeksi sudah berat.
    • Kulit tersangka terasa gatal hebat (pruritus) karena jamur menghasilkan enzim protease yang merangsang rasa gatal.
  • Penanganan Jamur: Untuk membasmi Malassezia, dokter hewan biasanya memberi obat antijamur oral dan topikal. Contohnya, obat kapsul atau sirup itrakonazol, terbinafin, atau flukonazol.
    Selain itu, tetes atau sampo antijamur yang mengandung klotrimazol atau miconazole digunakan untuk membersihkan telinga dan kulit yang terinfeksi. Perawatan ini umumnya dilakukan selama beberapa minggu hingga infeksi teratasi.
    Menjaga kebersihan telinga (kering dan tidak lembap) serta memperbaiki pola makan/kebersihan umum kucing juga membantu mencegah kekambuhan.

Baca Juga: Merbahaya! Penyakit Kucing Mulut Hitam – Cara Pencegahan – Begitu Juga Bibir dan Gusi


Infeksi Bakteri (Staphylococcus sp.) pada Telinga Kucing

Telinga Kucing Korengan

Infeksi bakteri Staphylococcus, khususnya S. pseudintermedius, sering menjadi penyebab pyoderma (infeksi kulit) pada kucing. Menurut Merck Veterinary Manual (dikutip PetMD), Staphylococcus pseudintermedius adalah bakteri penyebab infeksi kulit paling umum pada kucing.

Ketika bakteri ini menginfeksi telinga, dapat terjadi otitis eksterna dengan tanda-tanda khas nanah dan keropeng (koreng). Infeksi bakteri biasanya muncul sebagai komplikasi dari gigitan, luka lain, atau infeksi kulit sekunder.

  • Penyebab: Luka terbuka atau alergi kulit yang belum ditangani sering membuka celah bagi bakteri masuk. Bakteri Staphylococcus pun berkembang biak dalam kondisi hangat dan lembap di telinga.
  • Gejala khas:
    • Muncul bintil kemerahan dan sisik (crust) di saluran telinga.
    • Nanah atau cairan keruh (kuning kehijauan) mengalir dari telinga.
    • Kulit di sekitar telinga melepuh dan membentuk luka terbuka yang mudah berdarah.
    • Bulu rontok lokal, kulit gatal berbau tidak sedap karena adanya nanah.
    • Jika tidak ditangani, kucing bisa menjadi lesu dan nafsu makannya menurun karena rasa sakit.
  • Penanganan Bakteri: Dokter hewan akan mengambil sampel cairan telinga untuk di-culture. Jika terbukti infeksi bakteri, antibiotik sistemik (oral) akan diberikan, umumnya klindamisin atau sefaleksin (atau kombinasi amoksisilin-klavulanat).
    Pada infeksi superfisial ringan, bisa juga dipakai salep atau losion antiseptik (misalnya klorheksidin atau benzoyl peroxide).
    Bila infeksi sudah dalam, perawatan lanjutan seperti pembersihan rutin dan vitamin untuk mendukung penyembuhan sering disarankan. Menyelesaikan seluruh rangkaian antibiotik penting untuk mencegah resistensi bakteri.

Baca Juga: Kami Bagikan Cara Mengobati Kucing Korengan yang Terbaik


Kapan Kucing Harus Dibawa ke Dokter Hewan?

Telinga Kucing Korengan

Kucing sebaiknya segera dibawa ke dokter hewan jika koreng atau keluhan pada telinga tidak membaik dalam beberapa hari, semakin meluas, atau disertai gejala lain seperti bau menyengat, nanah, bengkak, perdarahan, dan rasa gatal yang sangat berat. Pemeriksaan juga perlu dipercepat bila kucing tampak kesakitan, sering menggelengkan kepala, kehilangan nafsu makan, atau menjadi lesu.

Untuk kasus jamuran, konsultasi dokter hewan penting jika bercak botak makin banyak, kulit tampak meradang, atau ada kucing lain di rumah yang mulai menunjukkan gejala serupa. Penanganan medis diperlukan agar penyebabnya bisa dipastikan, apakah benar jamur, tungau, bakteri, atau kombinasi beberapa infeksi sekaligus.

Semakin cepat penyebab dikenali, semakin besar peluang kucing pulih tanpa komplikasi. Karena itu, pemilik tidak disarankan menunda pemeriksaan jika kondisi telinga atau kulit terlihat memburuk dari hari ke hari.

Perawatan dan Pencegahan Umum

Telinga Kucing Korengan

Selain pengobatan sesuai penyebab, ada langkah pencegahan yang bisa dilakukan pemilik:

  • Bersihkan telinga kucing secara berkala dengan larutan pembersih khusus telinga kucing. Ini mencegah penumpukan kotoran yang menjadi sarang kuman dan jamur.
  • Jaga lingkungan agar tetap bersih dan tidak lembap. Ganti bedding/alas tidur kucing secara rutin dan pastikan telinga kering setelah mandi.
  • Pisahkan kucing yang sakit (misalnya punya tungau) dari yang sehat agar tidak menulari.
  • Rutin bawa kucing ke dokter hewan untuk pemeriksaan, terutama jika sudah pernah terjadi infeksi sebelumnya.

Rekomendasi Produk dan Layanan Terkait

  • Royal Care Obat Tetes Telinga (30ml) – Obat tetes khusus untuk telinga kucing yang efektif mengatasi infeksi bakteri dan jamur. Harganya terjangkau, sekitar Rp23.000. Ulasan pengguna menyebut ampuh membunuh bakteri dan mengurangi kerak telinga, namun perlu digunakan sesuai dosis agar tidak menimbulkan iritasi.
  • Klinik Kucing Sehat Jakarta – Klinik hewan di Jakarta yang menyediakan pemeriksaan telinga lengkap (termasuk pemeriksaan dengan otoskop). Konsultasi di klinik ini mulai sekitar Rp150.000. Banyak pemilik melaporkan layanan dokter di sini ramah dan profesional, serta diberikan rekomendasi obat telinga yang tepat.
  • Vetotic Obat Telinga (10ml) – Obat tetes anti-tungau telinga untuk kucing dan anjing. Produk impor ini dijual sekitar Rp40.000. Review pengguna menyatakan cepat membunuh kutu telinga, walau bau obat cukup menyengat. Sebaiknya hanya digunakan untuk infeksi tungau, tidak untuk jamur atau bakteri.

Baca Juga: Beberapa Cara Menghilangkan Kutu Kucing dengan Sunlight


Apakah kucing Anda pernah mengalami telinga Kucing korengan? Ayo bagikan cerita dan tips perawatan Anda di kolom komentar!

Jangan lupa share artikel ini agar lebih banyak pemilik kucing yang tahu cara menangani telinga kucing mereka.

Pencegahan dini dan penanganan tepat membuat kucing kesayangan tetap sehat dan nyaman di telinga mereka.

Sumber Referensi: Sumber-sumber berikut digunakan untuk mendukung informasi di atas: jurnal veteriner dan artikel kesehatan hewan ternama seperti HelloSehat, VCA Animal Hospitals, PetMD, artikel KlikDokter, serta jurnal Veteriner Universitas Udayana. Informasi tambahan diperoleh dari Merck Veterinary Manual dan pengalaman lapangan praktek dokter hewan.