Perbedaan Telinga Kucing Korengan karena Kutu, Jamur, dan Infeksi Bakteri
Seorang pria Asia terlihat memegang dan memeriksa telinganya secara mandiri sebagai ilustrasi kesadaran akan kesehatan telinga dan deteksi dini gangguan telinga.

Perbedaan Telinga Kucing Korengan karena Kutu, Jamur, dan Infeksi Bakteri – Menurut cindarkucingcom, kasus telinga kucing yang berkerak sering membuat pemiliknya cemas karena sulit membedakan penyebabnya.

Telinga kotor, berwarna gelap, atau berbau tak sedap bisa disebabkan oleh infestasi tungau telinga (ear mites), infeksi jamur Malassezia, maupun infeksi bakteri seperti Staphylococcus.

Telinga Kucing Korengan

Hellosehat mencatat bahwa kutu telinga menyebabkan kotoran berwarna cokelat gelap mirip lilin, sedangkan PetMD menyebutkan infeksi bakteri sering menimbulkan sisik dan nanah.

Dengan memahami ciri khusus setiap penyebab, pemilik dapat menolong kucing kesayangan mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat.

Tungau Telinga (Otodectes cynotis) pada Kucing

Tungau telinga (Otodectes cynotis) adalah parasit mikroskopis yang hidup di saluran telinga luar kucing. Parasit ini sangat menular terutama melalui kontak langsung antar hewan.

Menurut The People’s Dispensary for Sick Animals (PDSA), penyebab utama infestasi tungau telinga adalah kontak dengan hewan lain yang terinfeksi.

Artinya, jika induk kucing memiliki tungau, anaknya bisa tertular saat menyusu atau berbagi tempat tidur.

  • Penyebab: Tetesan mikroskopis tungau Otodectes berpindah dari kucing ke kucing lewat kontak langsung. Lingkungan lembap atau populasi kucing padat juga mempercepat penyebaran.
  • Gejala khas:
    • Kotoran telinga cokelat kehitaman seperti lilin.
    • Kulit telinga dan lubang telinga kemerahan, bengkak, sangat gatal (kucing sering menggaruk atau menggelengkan kepala).
    • Ruam bersisik atau berkerak muncul di sekitar telinga.
    • Bau tak sedap dari telinga, akibat kotoran campur nanah.
  • Diagnosa: Dokter hewan memeriksa telinga menggunakan otoskop atau mikroskop. Kotoran telinga yang tampak seperti bubuk kopi atau kotoran gelap menegaskan gejala tungau.

Penanganan Tungau: Dokter hewan akan membersihkan telinga dan memberikan obat topikal pembunuh kutu. Obat tetes telinga berbahan aktif insektisida (misalnya ivermektin, milbemycin) sering diresepkan untuk membasmi tungau.

Ada pula tindakan sistemik seperti pemberian insektisida pipet (Revolution®, Advantage Multi®) yang dioleskan di kulit leher sekali sebulan terbukti ampuh mengendalikan tungau telinga.

Penggunaan obat ini sering dilakukan bersamaan dengan pembersihan rutin. Jika terjadi peradangan berat atau infeksi bakteri sekunder, dokter mungkin menambahkan antibiotik atau steroid topikal untuk mengurangi nyeri dan bengkak.


Masalah kutu pada kucing peliharaan
Kutu Kucing: Kenali Jenisnya, Atasi Hingga Tuntas
Temukan solusi ampuh untuk mengenali beragam jenis kutu kucing dan langkah tepat menanganinya. Dari kondisi ringan hingga parah, dari perawatan alami sampai medis—panduan ini membantu mengubah masalah berulang menjadi perawatan yang menenangkan dan aman.

Infeksi Jamur Malassezia pada Telinga Kucing

Malassezia adalah genus jamur (yeast) yang secara normal tinggal di kulit dan telinga kucing sebagai flora komensal. Namun, bila jumlahnya berlebih, Malassezia dapat berubah patogen dan menyebabkan dermatitis serta otitis eksterna (radang telinga luar).

Menurut jurnal Veteriner Universitas Udayana, infeksi Malassezia menyebabkan eksudat berminyak berwarna coklat kemerahan pada area yang terinfeksi, termasuk sesekali di sekitar telinga.

Tingkat prevalensi Malassezia pada kucing dilaporkan sekitar 2,7% (Mauldin et al., 2002), terutama terjadi saat kelembapan tinggi atau saat kekebalan rendah.

  • Penyebab: Faktor seperti kebersihan kurang, kelembapan tinggi, alergi atau gangguan imun dapat memicu pertumbuhan berlebih Malassezia. Kucing berbulu panjang atau ras tertentu (Persia, Devon Rex, Anggora, Sphinx) disebut lebih rentan.
  • Gejala khas:
    • Kulit telinga dan area sekitarnya menjadi kemerahan (eritema), mengelupas, dan mengeras (likenifikasi).
    • Kehilangan kilau bulu dan kerontokan di sekitar telinga atau dagu.
    • Kotoran telinga tampak berlemak dengan lapisan lengket berwarna coklat kemerahan. Kadang tercium bau tengik jika infeksi sudah berat.
    • Kulit tersangka terasa gatal hebat (pruritus) karena jamur menghasilkan enzim protease yang merangsang rasa gatal.
  • Penanganan Jamur: Untuk membasmi Malassezia, dokter hewan biasanya memberi obat antijamur oral dan topikal. Contohnya, obat kapsul atau sirup itrakonazol, terbinafin, atau flukonazol.
    Selain itu, tetes atau sampo antijamur yang mengandung klotrimazol atau miconazole digunakan untuk membersihkan telinga dan kulit yang terinfeksi. Perawatan ini umumnya dilakukan selama beberapa minggu hingga infeksi teratasi.
    Menjaga kebersihan telinga (kering dan tidak lembap) serta memperbaiki pola makan/kebersihan umum kucing juga membantu mencegah kekambuhan.

Infeksi Bakteri (Staphylococcus sp.) pada Telinga Kucing

Infeksi bakteri Staphylococcus, khususnya S. pseudintermedius, sering menjadi penyebab pyoderma (infeksi kulit) pada kucing. Menurut Merck Veterinary Manual (dikutip PetMD), Staphylococcus pseudintermedius adalah bakteri penyebab infeksi kulit paling umum pada kucing.

Ketika bakteri ini menginfeksi telinga, dapat terjadi otitis eksterna dengan tanda-tanda khas nanah dan keropeng (koreng). Infeksi bakteri biasanya muncul sebagai komplikasi dari gigitan, luka lain, atau infeksi kulit sekunder.

  • Penyebab: Luka terbuka atau alergi kulit yang belum ditangani sering membuka celah bagi bakteri masuk. Bakteri Staphylococcus pun berkembang biak dalam kondisi hangat dan lembap di telinga.
  • Gejala khas:
    • Muncul bintil kemerahan dan sisik (crust) di saluran telinga.
    • Nanah atau cairan keruh (kuning kehijauan) mengalir dari telinga.
    • Kulit di sekitar telinga melepuh dan membentuk luka terbuka yang mudah berdarah.
    • Bulu rontok lokal, kulit gatal berbau tidak sedap karena adanya nanah.
    • Jika tidak ditangani, kucing bisa menjadi lesu dan nafsu makannya menurun karena rasa sakit.
  • Penanganan Bakteri: Dokter hewan akan mengambil sampel cairan telinga untuk di-culture. Jika terbukti infeksi bakteri, antibiotik sistemik (oral) akan diberikan, umumnya klindamisin atau sefaleksin (atau kombinasi amoksisilin-klavulanat).
    Pada infeksi superfisial ringan, bisa juga dipakai salep atau losion antiseptik (misalnya klorheksidin atau benzoyl peroxide).
    Bila infeksi sudah dalam, perawatan lanjutan seperti pembersihan rutin dan vitamin untuk mendukung penyembuhan sering disarankan. Menyelesaikan seluruh rangkaian antibiotik penting untuk mencegah resistensi bakteri.


Perawatan dan Pencegahan Umum

Selain pengobatan sesuai penyebab, ada langkah pencegahan yang bisa dilakukan pemilik:

  • Bersihkan telinga kucing secara berkala dengan larutan pembersih khusus telinga kucing. Ini mencegah penumpukan kotoran yang menjadi sarang kuman dan jamur.
  • Jaga lingkungan agar tetap bersih dan tidak lembap. Ganti bedding/alas tidur kucing secara rutin dan pastikan telinga kering setelah mandi.
  • Pisahkan kucing yang sakit (misalnya punya tungau) dari yang sehat agar tidak menulari.
  • Rutin bawa kucing ke dokter hewan untuk pemeriksaan, terutama jika sudah pernah terjadi infeksi sebelumnya.

Rekomendasi Produk dan Layanan Terkait

  • Royal Care Obat Tetes Telinga (30ml) – Obat tetes khusus untuk telinga kucing yang efektif mengatasi infeksi bakteri dan jamur. Harganya terjangkau, sekitar Rp23.000. Ulasan pengguna menyebut ampuh membunuh bakteri dan mengurangi kerak telinga, namun perlu digunakan sesuai dosis agar tidak menimbulkan iritasi.
  • Klinik Kucing Sehat Jakarta – Klinik hewan di Jakarta yang menyediakan pemeriksaan telinga lengkap (termasuk pemeriksaan dengan otoskop). Konsultasi di klinik ini mulai sekitar Rp150.000. Banyak pemilik melaporkan layanan dokter di sini ramah dan profesional, serta diberikan rekomendasi obat telinga yang tepat.
  • Vetotic Obat Telinga (10ml) – Obat tetes anti-tungau telinga untuk kucing dan anjing. Produk impor ini dijual sekitar Rp40.000. Review pengguna menyatakan cepat membunuh kutu telinga, walau bau obat cukup menyengat. Sebaiknya hanya digunakan untuk infeksi tungau, tidak untuk jamur atau bakteri.

Apakah kucing Anda pernah mengalami telinga Kucing korengan? Ayo bagikan cerita dan tips perawatan Anda di kolom komentar!

Jangan lupa share artikel ini agar lebih banyak pemilik kucing yang tahu cara menangani telinga kucing mereka.

Pencegahan dini dan penanganan tepat membuat kucing kesayangan tetap sehat dan nyaman di telinga mereka.

Profil Penulis: Drh. Aisyah Nurul – Dokter hewan lulusan Universitas IPB (2015) dengan spesialisasi kesehatan kucing. Berpengalaman 7 tahun menangani kasus dermatologi dan telinga kucing di klinik hewan Jakarta. Pendiri blog cindarkucing.com, Aisyah aktif berbagi tips dan pengalamannya merawat kucing ras dan lokal.

Sumber Referensi: Sumber-sumber berikut digunakan untuk mendukung informasi di atas: jurnal veteriner dan artikel kesehatan hewan ternama seperti HelloSehat, VCA Animal Hospitals, PetMD, artikel KlikDokter, serta jurnal Veteriner Universitas Udayana. Informasi tambahan diperoleh dari Merck Veterinary Manual dan pengalaman lapangan praktek dokter hewan.